DUPRIANSYAH.INFO, Hulu Sungai Utara KALIMANTAN SELATAN. Hulu Sunagi Utara di Kalimantan Selatan adalah jantung lumbung pangan rawa di Borneo, dengan sawah-sawah yang membentang luas. Tanah rawa yang subur menjadi tumpuan hidup ribuan petani. Namun, beberapa tahun terakhir, kesuburan ini perlahan dirampas oleh ‘penyusup’ tak terduga: gulma “Susupan Gunung”—sebuah nama lokal yang dramatis untuk tumbuhan air invasif yang kini menjadi bencana ekologis dan ekonomi.
Sawah di Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), yang seharusnya sudah mulai dibajak dan ditanami, kini menampilkan pemandangan yang memilukan. Bukan genangan air pasang yang menjadi masalah utama, melainkan benteng hijau berduri yang kokoh—sebuah invasi dari gulma ganas yang dijuluki masyarakat setempat sebagai “Susupan Raksasa” atau “Susupan Gunung.”
Tanaman yang dimaksud adalah Putri Malu Raksasa (Mimosa pigra L.). Gulma invasif ini telah bermutasi menjadi musuh terbesar petani Amuntai, mengunci potensi hasil bumi dari salah satu lumbung pangan di Kalimantan Selatan.
Ribuan Hektar Lahan Terkepung
Data menunjukkan, ratusan hingga ribuan hektar lahan pertanian di HSU, dengan konsentrasi parah di Kecamatan Babirik, kini ditutupi rapat oleh Susupan Raksasa. Gulma ini tumbuh sangat cepat, membentuk semak belukar padat dengan batang kuat dan duri tajam yang sulit ditembus.

“Biasanya, begitu air surut setelah musim banjir, kami langsung bersihkan lahan dan tanam. Sekarang tidak bisa. Setelah banjir surut, Susupan ini tumbuh lebih cepat dari apa pun. Bahkan cangkul atau parang pun sulit menembus akarnya,” ujar Pak Husin, seorang petani dari Babirik.
Kondisi ini menciptakan dilema akut: Petani tidak dapat membuka lahan, dan siklus tanam pun terancam gagal total.
Mengapa “Raksasa” Ini Sulit Dibasmi?
Terdapat beberapa faktor yang membuat Putri Malu Raksasa menjadi ancaman yang sangat mematikan bagi lahan rawa Babirik:
- Duri dan Struktur Kuat: Tanaman ini memiliki duri yang sangat tajam di sepanjang batangnya, membuat pembersihan manual menjadi berisiko dan memakan waktu sangat lama. Batang dan akarnya juga lebih kuat dibandingkan gulma biasa.
- Perkembangan Pasca-Banjir: Gulma ini memanfaatkan lahan yang lembap pasca-banjir untuk tumbuh dengan kecepatan eksponensial. Saat air surut, Susupan langsung mengambil alih nutrisi tanah.
- Resistensi Herbisida: Penggunaan herbisida konvensional seringkali tidak efektif. Dibutuhkan dosis tinggi atau jenis pestisida khusus yang berpotensi mahal dan berdampak negatif pada ekosistem rawa.
Akibatnya, lahan yang dulunya subur kini menjadi lahan tidur yang berpotensi mengurangi produksi padi secara signifikan.
Upaya dan Harapan Baru: Teknologi Melawan Gulma
Pemerintah Kabupaten HSU tidak tinggal diam menghadapi teror hijau ini. Dalam upaya darurat untuk membantu petani segera memulai musim tanam, Pemerintah telah mengambil langkah inovatif:

- Penyemprotan dengan Drone: Untuk mencapai target jangka pendek, Pemerintah Daerah mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) untuk menyemprotkan pestisida secara presisi dan cepat. Penggunaan drone ini terbukti efektif menjangkau lahan yang luas dan sulit diakses.
- Pengendalian Biologis Alternatif: Ada pula dorongan kepada petani untuk mencoba metode pengendalian hayati, seperti menanam Bunga Teratai (Nymphaea) di antara celah-celah gulma. Teratai dipercaya dapat membantu menekan pertumbuhan Susupan Raksasa secara alami.
Meskipun demikian, petani tetap berharap adanya solusi jangka panjang dan berkelanjutan. Penanganan gulma invasif ini bukan hanya tugas petani, tetapi memerlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat agar ribuan hektar lahan di Babirik bisa kembali produktif dan petani Amuntai dapat tersenyum saat panen tiba.
Bagaimana Gulma Ini Merampas Kesuburan?
Invasi gulma ini menyebabkan kerusakan berlapis terhadap ekosistem pertanian rawa:
- Membunuh Sawah Padi
Tanaman “Susupan Gunung” memiliki sistem perakaran yang kuat dan pertumbuhan batang yang padat. Ketika ia tumbuh di sawah, gulma ini akan:
* Menutupi Permukaan Air: Menghalangi masuknya sinar matahari secara total ke tanaman padi di bawahnya. Padi tidak bisa berfotosintesis dan akhirnya layu serta mati.
* Perebutan Nutrisi: Dengan pertumbuhannya yang masif, gulma ini menyerap sebagian besar nutrisi yang ada di dalam air dan tanah rawa, meninggalkan sedikit sisa untuk tanaman padi.
* Fisik Lahan Terkunci: Kepadatan gulma ini begitu tinggi sehingga menyulitkan petani untuk berjalan, mengolah, dan bahkan memanen lahan.
- Ancaman Bencana Ekologis dan Transportasi
Dampaknya tidak hanya pada padi. Sektor perikanan, yang juga menjadi penopang utama ekonomi HSU, ikut terancam. Gulma ini menutup jalur-jalur sungai dan rawa, menyebabkan:
* Kematian Ikan: Kepadatan tanaman menurunkan kadar oksigen terlarut di air, mematikan ikan-ikan rawa seperti Papuyu yang merupakan komoditas penting.
* Kelumpuhan Transportasi: Sungai adalah urat nadi kehidupan di HSU. Ketika sungai tertutup gulma, akses transportasi barang, jasa, dan hasil bumi terhambat total, mengancam roda perekonomian desa.